Archive for the ‘Me Time’ Category

sepenggal doa sebelum tidur

Posted on the April 27th, 2006 under Me Time by

entah bagaimana harus memulainya… tapi hari ini gw merasa sedih sekali… “rumah” kami berdua sepi akhir2 ini… bukan karna gak ada kisah… tapi terlalu banyak kejadian yg rasanya gak layak untuk dituangkan pada warna indah “rumah” kami… Kalau boleh gw berdoa…

“Ya Allah… berikan kami berdua kekuatan… berikan kami berdua jalan keluuar… berikan pada kami limpahan rizki dan rahmat mu… tetap jagalah cinta kasih kami… Ya Allah… Hanya pada Mu kami memohon dan hanya pada Mu lah kami meminta perlindungan… Amin ya robbal alamin…”

Wish us a very2 good luck my friends…

People who arrived at this page were looking for:

 peta pekan pahang

Sad Movie

Posted on the April 22nd, 2006 under Me Time by

Image hosting by Photobucket
papa bear sibuk banget pindah2an kantor 2 minggu terakhir ini… sambil ngeberesin client dan berkas2nya juga sekalian sambil nge-pack2in barang2 hampir tiap hari… even hari sabtu pun dia harus masuk ngeberesin semua barang2.. rencananya akhir bulan ini bakal pindah ke kantor baru di puchong.. Nah.. sebenernya semalem diajakin anak2 nyodok… tapi pas pulang baru ngeh liat bensin di mobil tiris banget… ya uts la mendingan duit buat nyodok nya dibeliin bensin aja… akhirnya maghrib udah sampe dirumah.. capek… dan kangen banget sama beruang… tapi dia blm bisa pulang so sabar lah nunggu…

sambil nunggu beruang pulang kerumah kemaren malem nonton filem drama korea sad movie.. bener2 sedih salah timing nii… pen ketawa2 malah nonton filem yg ending nya mencucurkan air mata gini.. habis nonton gw langsung termewek2 inget papa bear… dan bersyukur banget… betapa beruntungnya gw… masih selalu ada kesempatan untuk mengatakan sayang padanya… dibanding salah satu pasangan di dalam cerita itu… yg cmn mampu menatap sang kekasih yg sudah tiada dari rekaman video didalam sebuah gedung yg terbakar… karna dia udah tau gak akan sempet lagi mengatakan cinta pada org yg sll bersama nya bbrp tahun terakhir… disitu klimaks gw nangis sejadi2… gak mampu membayang kan klo hal yg sama terjadi pada diri gw.. me wuff u pap.. :x :x:x

sedikit review nyotek dari www.imdb.com…

First off, there’s Jin-Woo (Jung Woo-Sung of A Moment to Remember), a handsome, noble, but lunkheaded firefighter dating a sign language interpreter named Su-Jung (Im Su-Jung of A Tale of Two Sisters). It looks like the two are ready to take the next big step in their relationship, but Jin-Woo’s unwillingness to give up his dangerous profession and his occasional obliviousness to Su-Jung’s needs keeps derailing any plans for wedding bells between the two.

Su-Jung lives with her sister, the cheerful Su-Eun (Shin Min-Ah of A Bittersweet Life). Although she provides the occasional moral support for her sister and “brother-in-law,” Su-Eun has problems of her own. While working at a theme park as a Raggedy Ann-like Snow White, she falls in love with a portrait painter named Sang-Gyu (Lee Ki-Woo). The only problem is that Su-Eun is a deaf mute with a scar on the side of her cheek, facts which prevents her from approaching Sang-Gyu without wearing her oversized mask and costume. With the help of her ridiculously cute co-workers, the Seven Dwarves, Su-Eun hopes to overcome her shyness and connect with the handsome artist.

Then there’s Ju-Yung (Yeom Jung-Ah), a working mother whose commitment to her job causes a rift between her and her lonely son Hui-Chan (Yeo Jin-Goo). Things begin to change when Ju-Yung is caught in a car accident and sent to the hospital. While his mother is laid up in a hospital bed, Hui-Chan stumbles upon his mother’s diaries and begins to learn the truth about his conception, birth, and early childhood. Soon, he begins to bond with his mother, just as she discovers that she’s suffering from cancer.

Along the way, Hui-Chan crosses paths with Ha-Seok (Cha Tae-Hyun of My Sassy Girl), an unemployed shlub who makes extra money as a human punching bag for a local boxer. Meanwhile, his girlfriend Suk-Hyun (Son Tae-Yung) is sick of her dead-end job as a cashier and when Ha-Seok’s credit card is declined at her place of employment, she realizes she’s tired of waiting for her boyfriend to grow up and promptly dumps him. Ha-Seok begs her to give him a three month grace period and heads off seeking steady employment. After a chance encounter with a woman breaking up with her boyfriend, Ha-Seok hatches a scheme to start a “Separation Agency” that will break up relationships when one party is too scared to do it face-to-face. His wild idea quickly turns into a lucrative business, giving Ha-Seok hope that he’ll finally win his girlfriend back.

At face value, Sad Movie is a collection of tried-and-true formulas. There’s the couple with commitment issues, the shy girl caught up in a “Meet Cute” scenario with the boy of her dreams, the mother-son terminal illness tearjerker, and the gimmicky, high concept romantic comedy all on display in Sad Movie. While it’s arguable that each story could stand on its own, it’s perhaps wise that the filmmakers decided to intercut among the four. Not only does the decision make for a more involving film, but it also ensures that each storyline doesn’t wear out its welcome.

Despite what the title suggests, Sad Movie is a consistently funny film. It has all the makings of a light, fluffy romantic comedy, but to its credit, it’s a thoroughly enjoyable one. That’s not to say that the film isn’t full of emotion (as is the case with the mother-son cancer storyline), but much of Sad Movie is anything but sad or depressing. Ha-Seok’s unflappable dedication to his new job, Hui-Chan’s kiddy antics, Su-Eun’s internal snarky commentary, and Jin-Woo’s clueless behavior all provide ample chuckles throughout the picture. What stands out most about the film is how intensely likeable the all-star cast is, a quality that allows the viewer to immediately get involved in the story and hope things will work out for the best.

Bertengkar Indah

Posted on the March 2nd, 2006 under Me Time by

Image hosting by Photobucket

*Ps: sore2 iseng baca email dari milis… nemu wacana unik dan rasanya cukup bermanfaat buat diri gw sendiri… knapa di taro sini.. karna kita berdua juga  sering kali selisih pendapat dan kadang2 lieuuurr mo baekannya… so kali kali yg satu ini bisa jadi tips yg ok buat pasangan yg lagi berantem… qeqeqe…


just sharing…..

Bertengkar adalah phenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah tangga, kalau ada seseorang berkata: “Saya tidak pernah bertengkar dengan isteri saya !” Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristeri, atau ia tengah berdusta. Yang jelas kita perlu menikmati saat-saat bertengkar itu, sebagaimana lebih menikmati lagi saat saat tidak bertengkar. Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja dihantarkan dalam muatan emosi tingkat tinggi.

Kalau tahu ketikanya, dalam bertengkar pun kita bisa mereguk hikmah, betapa tidak, justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap mengandung muatan perasaan yang sangat dalam, yang mencuat dengan desakan energi yang tinggi, pesan pesannya terasa kental, lebih mudah dicerna ketimbang basa basi tanpa emosi. Tulisan ini murni non politik, jadi tolong jangan tergesa-gesa membacanya. Bacalah dengan sabar, lalu renungi dengan baik, setelah itu…terapkan dalam keseharian kita…….setuju friend’s???

…..Suatu ketika seseorang berbincang dengan orang yang akan menjadi teman hidupnya, dan salah satunya bertanya; apakah ia bersedia berbagi masa depan dengannya, dan jawabannya tepat seperti yang diharap. Mereka mulai membicarakan : seperti apa suasana rumah tangga ke depan. Salah satu diantaranya adalah tentang apa yang harus dilakukan kala mereka bertengkar. Dari beberapa perbincangan hingga waktu yang mematangkannya, tibalah mereka pada sebuah Memorandum of Understanding, bahwa kalaupun harus bertengkar, maka :

1. Tidak boleh berjama’ah. Cukup seorang saja yang marah-marah, yang terlambat mengirim sinyal nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda.

Untuk urusan marah pantang berjama’ah, seorang pun sudah cukup membuat rumah jadi meriah. Ketika seorang marah dan saya mau menyela, segera ia berkata “STOP” ini giliran saya ! Saya harus diam sambil istighfar. Sambil menahan senyum saya berkata dalam hati : “kamu makin cantik kalau marah, makin energik …” Dan dengan diam itupun saya merasa telah beramal sholeh, telah menjadi jalan bagi tersalurkannya luapan perasaan hati yang dikasihi… “duh kekasih .. bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka dipadang kelegaan perasaanmu itu aku menunggu ….“. Demikian juga kalau pas kena giliran saya “yang olah raga otot muka“, saya menganggap bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang tersinggung adalah sampah, ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman, dan saya tidak berani marah sama siapa siapa kecuali pada isteri saya :) Maka kini giliran dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah.. pokoknya khusus untuk marah, memang tidak harus berjama’ah, sebab ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan secara berjama’ah selain marah ;)

2. Marah lah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah terlipat masa (maksudnya masa lalu kita) Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah.

Siapapun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan terbentang mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita perlu menjaga harapan dan bukan menghancurkannya. Sebab pertengkaran di antara orang yang masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay, sedang pertengkaran dua hati yang patah asa, menghancurkan peradaban cinta yang telah sedemikian mahal dibangunnya.

Kalau saya terlambat pulang dan ia marah,maka kemarahan atas keterlambatan itu sekeras apapun kecamannya, adalah “ungkapan rindu yang keras“. Tapi bila itu dikaitkan dgn seluruh keterlambatan saya, minggu lalu,awal bulan kemarin dan dua bulan lalu, maka itu membuat saya terpuruk jatuh. Bila teh yang disajinya tidak manis (saya termasuk penimbun gula), sepedas apapun saya marah,maka itu adalah “harapan ingin disayangi lebih tinggi“. Tapi kalau itu dihubungkan dgn kesalahannya kemarin dan tiga hari lewat, plus tuduhan “Sudah tidak suka lagi ya dengan saya“, maka saya telah menjepitnya dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di masa lalu, ups saya telah membunuhnya, membunuh cintanya. Padahal kalau cintanya mati, saya juga yang susah … OK, marahlah tapi untuk kesalahan semasa, saya tidak hidup di minggu lalu, dan ia pun milik hari ini …..

3. Kalau marah jangan bawa-bawa keluarga

Saya dengan isteri saya terikat baru beberapa masa, tapi saya dengan ibu dan bapak saya hampir berkali lipat lebih panjang dari itu, demikian juga ia dan kakak serta pamannya. Dan konsep Quran, seseorang itu tidak menanggung kesalahan fihak lain ( QS.53:38-40).

Saya tidak akan terpantik marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi kalau ibu saya diajak serta, jangan coba coba. Begitupun dia, semenjak saya menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapapun di dunia ini selain dia, karenanya mengapa harus bawa bawa barang lain ke kancah “awal cinta yang panas ini”. Kata ayah saya : “Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak”. Memarahi orang yang mencintai saya, lebih mudah dicari ma’afnya dari pada ngambek pada yang tidak mengenal hati dan diri saya..“. Dunia sudah diambang pertempuran, tidak usyah ditambah tambah dengan memusuhi mertua!

4. Kalau marah jangan di depan anak-anak,

Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian. Dia tidak lahir lewat pertengkaran kita, karena itu, mengapa mereka harus menonton komedi liar rumah kita. Anak yang melihat orang tua nya bertengkar, bingung harus memihak siapa. Membela ayah, bagaimana ibunya. Membela ibu, tapi itu bapak saya. Ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar :

* Ibu : “Saya ini cape, saya bersihkan rumah, saya masak, dan kamu datang main suruh begitu, emang saya ini babu ?!!!

* Bapak : “Saya juga cape, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan aku harus mencari lebih banyak untuk itu, saya datang hormatmu tak ada, emang saya ini kuda ????!!!!

* Anak : “…… Yaaa …ibu saya babu, bapak saya kuda …. terus saya ini apa ?

Kita harus berani berkata : “Hentikan pertengkaran !” ketika anak datang, lihat mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan. Pada tawanya ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata bahasa hati kita ???

5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat,

Pada setiap tahiyyat kita berkata : “Assalaa-mu ‘alaynaa wa ‘alaa’ibaadilahissholiihiin” Ya Allah damai atas kami, demikian juga atas hamba hambamu yg sholeh …. Nah andai setelah salam kita cemberut lagi, setelah salam kita tatap isteri kita dengan amarah, maka kita telah mendustai Nya, padahal nyawamu ditangan Nya. OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis maghrib harus terbukti lho itu janji dengan Ilahi …. Marahlah habis shubuh, tapi jangan lewat waktu dzuhur, Atau maghrib sebatas isya … Atau habis isya sebatas….??? Nnngg .. Ah kayaknya kita sepakat kalau habis isya sebaiknya memang tidak bertengkar … :)

6. Kalau kita saling mencinta, kita harus saling mema’afkan,

Tapi yang jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar hanyalah “proses belajar untuk mencintai lebih intens” Ternyata ada yang masih setia dengan kita walau telah kita maki-maki. Ini saja, semoga bermanfa’at, “Dengan ucapan syahadat itu berarti kita menyatakan diri untuk bersedia dibatasi”.

*Selamat tinggal kebebasan tak terbatas yang dipongahkan manusia pintar tapi bodoh*

Related Posts with Thumbnails